“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).

Friday, April 29, 2011

Jalan layang non tol Sudirman - Casablanca


Bismillah….

Pembangunan jalan layang non tol sudirman Casablanca syarat pertanyaan dan patut dipertanyakan proyeknya,  hal itu sangat dekat dengan kebijakan pemerintah kota yang sangat tidak berpihak pada rakyat kecil namun lebih mementingkan hal-hal yang jauh tidak berpihak terhadap rakyat kecil yang seharusnya dilakukan.

Rakyat kecil yang merupakan dasar penyokong mobilitas perekonomian yang seharusnya difasilitasi dan diberikan supplement dalam menjalankan aktifitasnya untuk kesekian kalinya harus menelan pil pahit dalam keterbengkalaian dijalan yang setiap hari harus mereka lalui.

Para pemikir dan fasilitator negri ini sangat ambisius dengan hal-hal yang pada umumnya menarik diri jauh dari keberpihakan kepada pihak yang seharusnya mereka fasilitasi dan sokong karena dengan pihak itulah maka mobilitas perekonomian negri ini bukan hanya berjalan namun akan bergerak maju atau bahkan lepas landas dari dasar lintasan.

Ketidak berpihakan para pemikir dan fasilitator negri inilah yang membuka jalan untuk negri ini selalu terpuruk dan terjungkal disaat memulai mengepakkan sayap-sayap untuk lepas landas, karena tiap kali perencanaan dan persiapan bukan untuk menjamin suatu pergerakan yang maju namun hanya sebatas suatu hal yang semu.

Suatu hal yang kali ini menarik untuk dikritisi adalah pembangunan jalan layang non tol sudirman – Casablanca yang sudah sedang dimulai sejak awal 2011 dan tidak tau kapan berakhirnya, karena pembangunan yang bertahap tersebut masih terjadi tender-tender yang terpotong. Sehingga ada kemungkinan pembangunan itu akan meraup waktu dan energy yang banyak untuk menyelesaikannya.
Fasilitator tidak berpihak pada rakyat kecil yang bekerja dengan memiliki kemampuan menggunakan alat transportasi umum, hal tersebut dapat dilihat dari sarana yang ingin dibangun pada proyek jalan layang non tol tersebut diatas. Sebab jalan layang non tol tersebut pada dasarnya tidak begitu berefek besar pada pengguna transportasi umum namun lebih berefek pada pengguna pemakai kendaraan pribadi.

Entah pemikiran atau hal apa yang membuat para pemikir atau fasilitator untuk mewujudkan proyek ini sehingga mereka mengabaikan kepentingan umum dari rakyat mengengah kebawah ini, tentunya hal ini yang paling patut dipertanyakan karena menyangkut kepentingan rakyat pada umumnya. Alih-alih mengatakan bahwa pemasukkan dari pajak kendaraan bermotor dapat ditarik pemerintah dengan gemilang, sehingga pemikiran untuk memfasilitasi kendaraan bermotor teramat besar dilakukan pemerintah sampai-sampai hal yang mendasar untuk keberpihakan kepada rakyat kecil diabaikan.
Hal ini dapat diartikan dengan analogi “bagaikan menarik seutas benang namun membuat kusut untaian benang lainnya”, dan hal itu seharusnya benar-benar nyata dimata segenap para pemikir dan fasilitator negri ini. Karena mereka berfikir mendapatkan banyak pemasukan untuk pundi-pundi kas Negara namun akan tersedot habis atau bahkan merugi pada sector-sektor lainnya.

Dari angka pemasukan melalui pajak kendaraan bermotor maka akan dikeluarkan untuk beberapa pundi-pundi yang disebabkan dari banyaknya kendaraan yang berada dijalan. Yang paling sering mereka keluhkan sendiri adalah subsidi BBM yang sering mengundang controversial yang hingga saat ini rakyat bosan akan hal tersebut sehingga sudah bosan untuk menanggapinya. Karena tidak ditarik atau ditariknya subsidi untuk BBM ini akan tetap tidak memperbaiki keadaan baik rakyat maupun pemerintah itu sendiri.
Pundi-pundi lain yang akan dibelanjakan pemerintah dari pemasukan yang satu itu adalah pemeliharaan jalan, baik dari marka, rambu-rambu, penerangan jalan, petugas dan untuk pembiayaan jalan itu sendiri sangatlah besar karena dengan pemakaian dengan intensitas yang tinggi, kontinyu dan panjang sangatlah berpotensi untuk membelanjakan biaya yang besar. Setelah itu tingkat polusi yang sangat menjadi momok dimasyarakat akan membelanjakan pengeluaran untuk kesehatan dan keselamatan masyarakat yang beraktifitas dijalan karena tingkat polusi diats rata-rata akan mengakibatkan gangguan kesehatan bagi rakyat kecil yang lagi-lagi harus menjadi korban polusi karena merekalah yang teramat dekat harus bercumbu dengan polusi dibandingkan kalangan menengah keatas yang berada didalam mobil mewah mereka.

Dari pembelanjaan kesehatan tidak berhenti pada subsidi kesehatan saja namun hal ini berefek pada generasi muda penerus bangsa yang sedini mungkin menghirup polusi yang konon katanya membuat kerusakan pada jaringan otak dan rusaknya jaringan fisik sehingga membuat tidak berfungsi dengan baik. Sehingga generasi muda yang seharusnya menjadi tiang penyanggah negri untuk melanjutkan mobilitas negri tidak sesuai yang seharusnya karena sedari dini telah terkebiri dengan tumpulnya otak dan fisik mereka.

Memang bukan hanya polusi penyumbang dari pembentukan generasi yang terkebiri namun masih banyak lagi hal lainnya, namun hal ini harus segera diketahui dan dipahami oleh para pemikir dan fasilitator negeri ini sebelum keterpurukan dapat menjungkalkan negri ini kedalan kubangan kenistaan yang dalam sehingga tak mampu lagi untuk bangkit. Hal ini harus diperbaiki dengan ketulusan hati para penyelenggara negri ini dan juga kemauan besar untuk melakukan, memberikan dan menciptakan kesejahteraan bersama yang terus-menerus secara progresif dan konferehansif.

Tantunya transportasi kemasyarakatan akan lebih baik bila dibanding dengan transportasi individual karena mobilitas akan ternodai dengan suatu gap social diberbagai lapisan masyarakat, sikap dan keputusan penyelenggara akan berdampak besar dari mobilitas negeri yang ini dicapai. Sehingga sikap penyelenggara untuk mementingkan dan memihak kepada borjuis atau kapitalis produsen yang meraup keuntungan besar dari negri ini ini harus segera dihentikan dan diubah menjadi 180 derajat yaitu dengan menarik keberpihakannya kepada kalangan bawah.

Ketika sebelum dilakukan pembangunan jalan layang non tol sudirman – Casablanca penulis telah lama berfikir yang mana apabila dibuatkan Monorail dari Pondok kopi hingga Kota dengan melalui track Pondok Kopi-Duren sawit-Kp Melayu- Tebet-Ambassador-karet-Tn Abang- Cideng dan terus hingga kota bukan hanya akan terlihat cantik secara pemandangan namun juga akan menciptakan transportasi yang memadai bagi masyarakat semua kalangan sehingga hal ini dapat menepis segala kekurangan yang tercipta dengan pembuatan jalan layang non tol. Hal itu dapat dikomparasi dengan jalas antara keuntungan dan kerugian diatara masing-masingnya.

Garudaku segera enyahkan kutu-kutu disayap yang menjadi penghisap darah sehingga engkau tak dapat mengepakkan sayapmu untuk terbang menjelajah untuk memperlihatkan betapa gagah dan wibawanya engkau sebagai mana sedia kala engkau dibentuk.  

No comments: